Bogor– Sebuah video yang menunjukkan interaksi polos seorang anak Papua dengan alamnya viral di media sosial. Dalam video tersebut, bocah tersebut dengan lugas menolak ajakan untuk membuat perangkap burung, dengan alasan kasihan kepada induk burung yang akan kehilangan anaknya.

Ekspresi sedih dan kepedulian yang ditunjukkan anak itu tidak hanya sekadar penolakan, tetapi mencerminkan pemahaman mendalam tentang keseimbangan ekosistem hutan tropis tempatnya hidup. Dia mengenal berbagai spesies flora dan fauna di sekitarnya, menunjukkan keharmonisan hidup yang terjalin antara masyarakat lokal dan alam.

Fenomena ini oleh pengamat sosial, Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, M.Si, disebut sebagai contoh nyata "ecocentrism" – sebuah pandangan yang menempatkan alam sebagai pusat dan sahabat yang harus dijaga, bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi.

“Si bocah ini memahami bahwa alam beserta isinya adalah sistem pendukung kehidupan. Dia paham adanya saling ketergantungan, bukan hanya memikirkan keuntungan manusia semata (antropocentrism),” tulis Apendi dalam catatannya, Sabtu (3/12).

Kontras dengan Ancaman Deforestasi

Kepolosan dan kearifan anak Papua itu muncul di tengah bayang-besarnya ancaman deforestasi dan alih fungsi lahan yang mengincar wilayah Tanah Papua. Apendi menyoroti pernyataan-pernyataan tentang pembukaan lahan untuk food estate dan pertambangan yang berpotensi mengulang sejarah kerusakan lingkungan di Sumatra dan Kalimantan.

“Bencana banjir bandang di Sumatra baru-baru ini seharusnya menjadi pelajaran berharga. Overexploitation, eksploitasi berlebihan yang melampaui daya dukung lingkungan, adalah biang kerusakan,” tegasnya.

Dia mengingatkan bahwa kerusakan hutan tropis tidak hanya berdampak ekologis, tetapi juga menciptakan ketidakadilan sosial. Masyarakat lokal seringkali menjadi pihak yang paling menderita, sementara keuntungan ekonomi dinikmati oleh segelintir pihak.

Harapan untuk Generasi Mendatang