JAKARTA – Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Hermansyah Siregar, mengimbau seluruh pengrajin dan pelaku usaha kriya yang berpartisipasi dalam pameran Inacraft 2026 untuk segera mendaftarkan dan melindungi karya mereka melalui kekayaan intelektual (KI). Imbauan ini disampaikan sebagai langkah preventif terhadap potensi pembajakan dan pemalsuan yang rentan dialami oleh produk kerajinan.

Menurut Hermansyah, kreativitas para pengrajin harus diimbangi dengan perlindungan hukum yang kuat agar nilai ekonomi karya tersebut dapat dimaksimalkan.

“Para pengrajin berkreasi menghasilkan karya luar biasa, tetapi jika tidak dicatatkan atau didaftarkan kekayaan intelektualnya, maka akan sangat rentan terhadap pembajakan,” ujar Hermansyah Siregar saat diwawancarai di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (4/2/2026).

Ia menambahkan, perlindungan KI tidak hanya berfungsi sebagai tameng hukum, tetapi juga meningkatkan nilai jual produk. “Jika sudah terdaftar, selain terlindungi, nilai produknya juga akan meningkat. Sertifikasi kekayaan intelektual ini memberikan kepercayaan bagi pasar, termasuk importir luar negeri, karena menunjukkan kualitas, reputasi, dan karakteristik produk,” jelasnya.

Untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), DJKI membuka _booth_ layanan konsultasi dan pendaftaran kekayaan intelektual selama Inacraft 2026 berlangsung. Layanan yang disediakan meliputi penelusuran merek, pencatatan hak cipta, desain industri, hingga edukasi indikasi geografis bagi para pelaku usaha kriya.

Inacraft Sebagai Etalase Kriya Nasional

Inacraft 2026 dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 4 hingga 8 Februari 2026 di JCC. Pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara tahun ini mengusung tema “Exploring and Celebrating Womenpreneurs in Craft,” sebagai refleksi atas peran strategis perempuan dalam pengembangan subsektor kriya nasional.

Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Inacraft merupakan ruang strategis yang mempertemukan tradisi dengan inovasi, serta budaya dengan pasar.

“Inacraft telah menjadi tempat bertemunya kekayaan budaya dengan jejaring pasar, baik nasional maupun internasional. Kami mengapresiasi konsistensi Asosiasi Eksportir dan Produsen Indonesia (ASEPHI) dalam menjaga kualitas dan reputasi Inacraft selama lebih dari dua dekade,” kata Teuku Riefky Harsya.