Rakyatjabar.id- Pengamatan terhadap kemajuan infrastruktur dan ketertiban sosial di Malaysia kembali memicu diskusi mengenai kesenjangan pembangunan antara kedua negara serumpun. Menurut analisis yang disampaikan oleh Dr. Ir. H. Apendi Arsyad, seorang dosen dan pengamat sosial, ketertinggalan Indonesia dibandingkan Malaysia bersumber dari masalah struktural, budaya, dan kegagalan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Pernyataan ini muncul setelah Dr. Apendi menerima laporan dari rekannya, Prof. Riset Augy Sihalatua, yang sedang melakukan perjalanan di Kuala Lumpur dan Singapura menjelang akhir tahun 2025. Prof. Augy menyoroti bahwa kehidupan masyarakat Malaysia tampak lebih maju, didukung oleh infrastruktur transportasi yang lebih lengkap, serta tata kelola sosial yang lebih tertib dan teratur dibandingkan Indonesia.

Dr. Apendi mengonfirmasi pengamatan tersebut, mengingat kunjungannya ke Malaysia sekitar sepuluh tahun lalu. Ia menyimpulkan bahwa negara jiran tersebut menunjukkan kemajuan signifikan dalam berbagai aspek sosial-ekonomi.

Paradoks Budaya dan Konflik Horizontal

Dalam perspektif antropologis, Indonesia dan Malaysia memiliki pola budaya yang relatif serupa, didominasi oleh etnis Melayu dan sama-sama merupakan negara multietnis. Namun, Dr. Apendi menyoroti adanya perbedaan mencolok dalam harmoni sosial.

Di Malaysia, meskipun terdapat etnis minoritas seperti Tiongkok dan India, kehidupan masyarakat cenderung rukun dan jarang terdengar konflik antaretnis. Situasi ini kontras dengan Indonesia yang pernah mengalami konflik horizontal pasca-Reformasi 1998, seperti konflik Solo (pribumi vs nonpribumi), Dayak vs Madura di Kalimantan Barat, serta konflik Poso dan Ambon yang melibatkan isu agama. Padahal, di Ambon sendiri terdapat kearifan lokal seperti "Pelagandong" yang seharusnya menjamin toleransi.

Menurut Dr. Apendi, konflik sosial, baik horizontal maupun vertikal (rakyat vs rezim penguasa), dipicu oleh faktor kecemburuan sosial akibat melebarnya kesenjangan sosial ekonomi. Tingginya Indeks Gini Ratio yang mendekati 0.4 menunjukkan kesenjangan pendapatan yang tinggi antara segelintir kelompok, termasuk asing dan "aseng," dengan mayoritas rakyat Indonesia. Kesenjangan ini memicu tingginya angka kemiskinan dan memperlemah kohesi sosial yang berpotensi menyebabkan disintegrasi nasional, seperti yang pernah terjadi di Aceh dan Papua.

Tiga Dimensi Penyebab Kesenjangan

Dr. Apendi merangkum penyebab ketimpangan sosial ekonomi di Indonesia ke dalam tiga dimensi utama: