BOGOR – Kebijakan Pemerintah Kabupaten Bogor yang tertuang dalam Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 48 Tahun 2025 tentang "Satu Desa Satu Sarjana" mendapat sorotan dan apresiasi dari berbagai kalangan. Pakar komunikasi dan penulis, Rausan Ali Syahnurqi, S.IP, menilai program ini sebagai langkah visioner yang tepat sasaran untuk mempercepat pemerataan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di wilayah pedesaan.
"Program ini bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk membangun fondasi kemandirian desa dari aspek yang paling mendasar, yaitu kualitas intelektual warganya," ujar Rausan dalam analisisnya, Jumat (30/01/2026).
Ia menjelaskan bahwa inisiatif Bupati Rudy Susmanto ini secara langsung menjawab tantangan kesenjangan pendidikan yang selama ini menghambat pembangunan desa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata lama sekolah di wilayah perdesaan Kabupaten Bogor masih tertinggal hampir dua tahun dibandingkan wilayah perkotaan.
"Target melahirkan minimal satu sarjana per desa setiap tahun berpotensi menghasilkan lebih dari 1.600 lulusan perguruan tinggi dalam satu periode kepemimpinan. Angka ini merepresentasikan gelombang perubahan struktural yang signifikan," tambahnya.
Lebih lanjut, Rausan memandang program ini memiliki dampak berantai yang luas. Menurutnya, kehadiran sarjana dari desa akan mengisi ruang-ruang strategis pembangunan, mulai dari menjadi konsultan bagi pemerintah desa, penggerak UMKM berbasis inovasi, hingga agen transformasi di sektor pertanian dan pendidikan anak usia dini.
"Yang menarik dari kebijakan ini adalah pendekatannya yang sistemik. Dengan memanfaatkan Bantuan Keuangan Desa (Bankeu), program ini memiliki kaki hukum dan pendanaan yang jelas, sehingga pelaksanaannya bisa lebih terjamin dan terukur," papar Rausan.
Ia berharap langkah strategis Pemkab Bogor ini dapat menjadi model bagi daerah lain dalam upaya mengejar ketertinggalan kualitas SDM dan membangun kemandirian desa secara berkelanjutan.
Biodata Narasumber:
Rausan Ali Syahnurqi, S.IP adalah seorang Aktivis juga penulis kebijakan publik yang fokus pada isu pembangunan daerah, pemerintahan, dan pemberdayaan masyarakat Desa. Dengan latar belakang pendidikan Ilmu Politik, tulisannya banyak mengangkat analisis terhadap dampak kebijakan lokal terhadap peningkatan kualitas hidup warga.