BOGOR – Penggunaan wadah berbahan plastik dan styrofoam oleh pedagang makanan di wilayah Bogor terpantau mengalami peningkatan signifikan selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriyah. Kondisi ini memicu kekhawatiran dari para aktivis lingkungan hidup karena berpotensi memperparah polusi dan menambah volume limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Praktisi Lingkungan Hidup Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Dwi Retnastuti, menyampaikan keprihatinannya atas tren penggunaan kedua bahan tersebut. Menurutnya, kantong plastik dan styrofoam merupakan penyumbang pencemaran lingkungan yang serius jika tidak segera dikendalikan.

"Styrofoam termasuk sampah B3 rumah tangga yang cukup berbahaya. Saat terkena panas, styrofoam melepaskan zat kimia bernama stiren yang bersifat racun dan dapat berpindah ke makanan yang kita konsumsi," ujar Dwi, yang juga merupakan aktivis WALHI Nasional, Senin (2/3/2026).

Dwi menambahkan bahwa volume sampah selama bulan Ramadan rata-rata melonjak hingga 10 sampai 12 persen, yang pada akhirnya menjadi beban berat bagi Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selain dampak lingkungan, ia memperingatkan risiko kesehatan bagi masyarakat. "Makanannya sendiri berbahaya karena berpotensi tercemar mikroplastik," imbuhnya.

Ia mendorong pemerintah daerah untuk melakukan sosialisasi secara masif mengenai bahaya plastik sekali pakai untuk kemasan pangan. Dwi juga mengajak masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan dengan membawa wadah sendiri saat berbelanja takjil guna menekan angka food waste dan limbah plastik.

Di sisi lain, fakta di lapangan menunjukkan tantangan ekonomi dan praktis bagi para pedagang. Ny. Elah (31), seorang penjual takjil di Pasar Babakan Madang, mengaku masih mengandalkan styrofoam dan plastik karena alasan kepraktisan. "Pakai plastik dan styrofoam itu praktis, penjual makanan yang lainnya juga pakai itu," ungkapnya.

Senada dengan Elah, Asep (44), seorang penjual ayam potong di Desa Sumurbatu, menyatakan setuju dengan upaya pengurangan limbah. Namun, ia merasa belum ada alternatif wadah yang semurah dan sepraktis plastik.

"Belum ada wadah yang praktis dan murah selain kantong plastik. Kalau menggunakan daun pisang kurang praktis, wadah lain juga lebih mahal. Apalagi hampir semua pembeli tidak membawa wadah sendiri, jadi saya tetap sediakan plastik," jelas Asep.

Fenomena ini menunjukkan perlunya sinergi antara kebijakan pemerintah, ketersediaan alternatif kemasan yang ekonomis, serta kesadaran konsumen untuk membawa wadah mandiri demi menjaga kelestarian lingkungan selama bulan suci.